24 Februari 2009

Jurus 'Marketing Rahasia' Jundi

by:abinyajundi



“Dek Monik..….Dek Monik ! “Jundi Jualan sendal!’

Lengkingan suara Jundi di depan pintu gerbang rumah kami berhasil menyita perhatian kami .Tak lama kemudian, telihat ia berlari sambil menenteng sepasang sandal berwarna pink dengan motif strawberry pada salah satu tangannya. Yang ditujunya adalah rumah Monik, bocah berumur 3 tahun yang menjadi kawan mainnya setiap hari. Dengan senyum mengembang Aku dan istriku menyaksikan dari jauh tingkah polah Jundi.Setelah itu terjadi dialog dua bocah berumur 3 tahunan yaitu antara Jundi dan Monik Kami tak tahu jurus rahasia marketing apa yang dikeluarkan Jundi pada Monik , tapi yang jelas tak berapa lama kemudian Monik dan ibunya datang menuju rumah kami. Dibelakangnya Jundi mengiringi mereka dengan seringai senyum penuh kemenangan . Kalau boleh kutebak mungkin dalam hatinya terucap “Asyik..nambah lagi nih uang jajanku ”. Sudah dua hari ini memang rumah kami sering disambangi ibu-ibu yang datang bersama anaknya. Tujuan mereka satu, yaitu ingin membeli sandal karet bermotif berbahan flannel yang dijual istriku. Sandal-sandal itu memang terlihat lucu. Dengan berbagai motif yang ditawarkan seperti motif strawberri, Ikan Nemo, Bintang, pesawat dan lain-lainnya mampu memikat dan menggoda mereka untuk membelinya Dan yang pasti kedatangan mereka salah satunya disebabkan pula oleh provokasi Rafa dan Jundi dalam memasarkan sandal-sandal itu kepada teman sepermainan mereka . Apa yang Rafa dan Jundi lakukan dengan memasarkan Sandal dagangan Umminya Aku jamin bukanlah sebuah eksploitasi orangtua terhadap anak . Jadi kuharap Komnas Perlindungan Anak nggak perlu repot-repot datang ke rumah kami dan memberi peringatan kepada kami . Walaupun Jelas, apa yang mereka lakukan bisa menambah pendapatan kami dan mengurangi beban kami . Aku menduga bahwa iming-iming yang Aku janjikan pada merekalah yang menyebabkan mereka begitu aktif memasarkan sandal-sandal itu. Memang Aku sampaikan kepada mereka bahwa setiap sandal yang berhasil dijual oleh Rafa dan Jundi, maka keduanya berhak mendapatkan honor penambah jajan atas prestasi mereka. Sebetulnya, hakikatnya bukan honor prestasi penjualan yang Aku berikan kepada mereka berdua. Tapi yang Aku berikan adalah sebuah pelajaran tentang bagaimana perlunya sebuah perjuangan dalam mencapai sesuatu dan yang penting lagi mereka kami harapkan akan lebih bisa menghargai nilai sebuah mata uang dan mengetahui bagaimana cara mendapatkannya , yaitu salah satunya adalah dengan cara berdagang. Terus terang ini bukan kali pertama kami mengajarkan kepada mereka bagaimana cara mencari uang. Dulu, sewaktu tinggal di Bekasi pun kami mengajarkan mereka lewat jalan menjual ayam goreng dan burger yang kami jajakan dikomplek kami. Kadang kami libatkan Rafa dengan cara membantu membawakan beberapa perlengkapan masak seperti panci perebus kentang, penggorengan daging burger,tempat pembungkus ayam dan burger yang terbuat dari kertas sampai mengantar pesanan kerumah tetangga kami yang memesan ayam atau burger. Begitu pula saat kami memutuskan untuk berbisnis memproduksi kue lebaran. Anak-anak terus kami libatkan. Walaupun dalam bisnis kue ini Rafa dan Jundi hanya berperan sebagai tukang pengetes rasa kue yang telah dibuat, bagaimana tidak, setiap kue yang telah jadi dan dikeluarkan dari Loyang merekalah yang pertama kali mencicipinya, dan sekali mencicipi pun bukan satu atau dua kue tetapi satu toples kue!. Memang Aku tidak melibatkan mereka terlalu jauh karena semua pekerjaan telah ditangani oleh lima karyawan kami. Sebelum itu kamipun pernah berbisnis pakaian jadi khususnya pakaian muslim. Dari mulai gamis, mukena sampai jilbab-jilbab untuk dewasa dan anak-anak kami jajakan dikomplek kami. Saat itu betapa begitu Aku dan Rafa salut atas perjuangan istriku. Bagaimanan tidak, dengan membawa Jundi yang masih berusia 8 bulan dalam kandungan hampir setiap hari istriku menggunakan sepeda memasarkan dagangan pada teman-temannya sampai jauh kebelakang komplek kami. Sementara Sang Ummi dengan semangat mengayuh sepeda, Rafa di boncengan belakang selalu setia menemani umminya berdagang dengan nyanyian-nyanyian kecilnya . Ah, ternyata sejak dalam kandunganpun secara tak kami sadari Jundi sudah diajari berdagang Kami tidak tahu bisnis apa lagi yang akan kami kenalkan kepada mereka setelah ini . Namun yang pasti, Aku dan istriku sepakat untuk senantiasa menghadirkan atmosphere perjuangan dalam kehidupan rumah tangga kami. Dan cara yang pas yang dapat kami lakukan kepada mereka untuk saat ini adalah melalui berdagang. Semua itu kami lakukan juga semata agar anak-anak kami tidak bergantung hanya kepada satu pemikiran bahwa mencari uang hanya dengan cara menjadi seorang pegawai dan pekerja kantoran seperti apa yang Abi mereka lakukan saat ini . Sesungguhnya begitu banyak pintu-pintu rezeki yang Allah bukakan kepada kita lewat cara berdagang. Namun terkadang kita enggan dan tidak berani untuk menjemputnya. Malu, takut rugi dan ketidakpercayaan diri atas kemampuan kita seringkali menjadi penghadang pertama yang ditemui setiap orang dalam memulai usaha. Padahal jelas-jelas Rasulullah SAW pernah berkata bahwa dari sepuluh pintu rezeki yang dibuka Allah Sembilan diantaranya melalui jalan perdagangan. Aku tidak menjustifikasi bahwa dengan jalan berdagang seperti ini adalah cara yang terbaik dan efektif untuk mencari uang. Tentu saja Aku menghormati profesi lainnya yang juga bisa menghasilkan uang dengan cepat dan mudah. Tapi pada saat ini sekali lagi bahwa cara yang pas untuk mengajari anak-anak kami bagaimana berkenalan dengan proses perjuangan adalah dengan cara berdagang seperti apa yang orangtua mereka lakukan. ** Di pojokan kulihat istriku menghitung-hitung hasil penjualan hari ini. Senyum kebahagian yang keluar dri bibirnya tentu saja senyum kebahagian bagi ku, Rafa dan Juga jundi. Aku bersyukur apa yang Aku lakukan selama ini kepadanya telah merubah dirinya. Dari seorang gadis yang hanya bergantung kepada pemberian orangtua kini Ia telah menjelma menjadi orang yang percaya diri dan berhasil menanggalkan rasa malunya untuk menawarkan dagangan kepada orang lain. Dan Aku besyukur pula pelan-pelan Rafa dan Jundi telah mulai mengikuti jejak kami. Paling tidak keduanya telah berani dan mampu mempengaruhi orang lain untuk menyetujui apa yang mereka tawarkan dalam hal ini membeli sandal Umminya, kalau dalam bahasa MLM (Multi Leve Marketing) Rafa dan Jundi telah berhasil mem-prospek downline mereka dan dalam hal ini Rafa dan Jundi telah berhasil memiliki jurus marketing dengan cara mereka sendiri. Dalam hati Aku berharap agar apa yang telah kami lakukan selama ini bisa menjadi jalan peretas cita-cita kami yaitu bisa menghasilkan anak-anak shalih dan tangguh yang bisa bertahan dalam kondisi apapun dan di tempat manapun. Kami ingin agar kelak anak-anak kami mampu menjadi manusia yang tidak selalu bergantung kepada orang lain namun memiliki kreativitas dalam menciptakan segala peluang sepertihalnya Abdurrahman bin Auf yang hanya ingin ditunjukan dimana tempat berniaga agar ia dapat melakukan perdagangan padahal saat itu ada sahabat Anshor yang kaya raya yang menawarinya harta untuk ia manfaatkan sesukanya. Dan terbukti, dengan caranya Abdurrahman bin Auf pada saat itu dikenal sebagai konglomerat berhasil yang bisa memiliki kekayaan yang tiada tandingan. Dan satu hal yang hebat lagi yang tidak dimiliki konglemerat lain adalah ketika Rasulullah SAW mengabarkan bahwa beliau adalah salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga. Subhanallah. Biarlah proses perjuangan yang kami lakukan selama ini ini menjadi rekam jejak untuk mereka kelak dikemudian hari . Agar mereka menyadari bahwa bahwa kesuksesan yang akan mereka raih nanti, adalah buah dari sebuah jalinan proses perjuangan yang orangrtua mereka pernah rajut dulu sejak mereka kecil . Dan biarlah waktu yang akan menjawab. Semoga! Sidoarjo, 23 Februari 2009